KKL-DR 2020 IAIN Padangsidimpuan Tanggal 28 Pandangan Hidup Islam dalam Menghadapi Covid-19
Dalam Islam penyakit itu sering dikaitkan dengan Bala’musibah, fitnah, adzab. Penyakit juga dapat berbentuk kuman sejenis bakteri yang merupakan ciptaan Allah meskipun melalui hasil perbuatan manusia itu sendiriBimaa kasabat aydin-nas. Dengan kata lain menggunakan istilah waba’ atau thaa’uun. Arti thaa’uun adalah suatu penyakit yang menular dengan penyebaran jangkauan yang sangat luas, penyakit yang mencemari udara dan dapat menggerogoti tubuh serta penyakit yang dapat mengakibatkan kematian dengan waktu sepersekian detik, sangat cepat.
Dr. Syamsuddin Arif, kemudian mengutip Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa waba’ adalah penyakit epidemic dan pendemik, Thaa’uun yang berarti penyakit yang menular mematikan yang bisa jadi karena adanya serangan jin dalam darah yang menyebabkan gumpalan darah yang sangat beracun yang tidak dapat diatasi oleh dokter sekalipun.Hal ini juga disepakati oleh Ibn al Qayyim terkait thaa’uun terdapat tiga hal yaitu pertama,gejala-gejala yang umumnya dapat di diagnosa oleh para dokter. Kedua, kematian yang diakibatkan oleh penyakit yang menular. Ketiga, faktor yang disebabkan oleh sisa-sisa adzab Bani Israil, dan gangguan jin.Namun, sebagai umat Islam kita selalu bersabar dan bertawakkal dalam menghadapi segala ujian serta musibah yang datang mengampiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 155-156 yang artinya “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun, (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.)”
Berkenaan dengan penjelasan tersebut apa yang harus kita lakukan sebagai usaha dalam menghindari wabah dari berbagai penyakit termasuk wabah Covid-19? Dalam Fiqh, diajarkan ketika terjadi suatu wabah di suatu negeri maka tidak ada gunanya pergi dari tempat tersebut jika penyebabnya juga dirinya sendiri, dianjurkan untuk memperbanyak do’a qunut nazilah sebagai do’a untuk menolak wabah penyakit, orang terkena wabah penyakit yang mematikan tersebut sebagai adzab hukuman yang dikirimkan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, tetapi Allah menjadikan itu sebagai Rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Sebagaimana hadist menyatakan, “Dari ‘Aisyah R.A., aku bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai wabah penyakit menular yang mematikan. Beliau menjawab bahwa wabah itu merupakan azab hukuman yang dikimkan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, tetapi Allah menjadikan itu sebagai Rahmat bagi orang-orang yang beriman (karena) barang siapa yang mendapati wabah penyakit disuatu negerinya lalu ia tetap tinggal di situ dengan sabar lantaran mengharap pahala Allah serta yakin bahwa segala sesuatu yang menimpanya pasti sudah ditentukan olah Allah, maka jika meninggal dunia baginya pahala seperti orang yang gugur syahid dijalan Allah.” (HR. Bukhari)
Guna mencegah penyebaran COVID-19, Islam juga mengajarkan untuk tidak keluar rumah, menjaga kebersihan dengan berwudhu’, mencuci tangan, menjaga jarak dan lain sebagainya. Mengkonsumsi makanan yang baik dan halal juga merupakan suatu hal yang sangat penting selain untuk memperkuat imunitas tubuh manusia.Mengindari konsumsi makanan yang membawa kemudharatan apalagi mengkonsumsi makanan yang jelas-jelas haram dalam Islam. Karena kerusakan yang terjadi pada tubuh manusia adalah berasal dari yang apa mereka perbuat serta apa yang dimasukkan kedalam perut mereka.
Isolasi atau tidak melakukan aktifitas diluar rumah juga dianjurkan untuk mengatasi atau memutus penyebaran wabah virus tersebut sebagaimana dalam hadits,
إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها، و إذا وقع بأرض و أنتم بها فلا تخرجوا منها
“Jika kalian mendengar wabah penyakit malanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika kalian ada didalam negeri itu, maka jangan keluar untuk lari daripadanya.” (HR. Bukhori).
Terkait dengan Covid-19 dan Islam, Ibn Qayyim pun mengajarkan kita untuk menghindari potensi apapun yang bisa membuat seseorang terinfeksi wabah tersebut, senantiasa menjaga kesehatan dengan baik sebagai modal hidup di dunia dan akhirat, menghindari menghirup udara yang telah tercemar kuman penyakit irus tersebut, menjaga jarak dengan seseorang yang terinfeksi atau menerapkan (social distancing), berfikir positif, bertawakkal kepada Allah, berhati-hati, melakukan pencegahan, memperbanyak mengingat Allah dengan ibadah serta pengetahuan. Wallahu a’lam bisshawab.
Komentar
Posting Komentar